Posted by: solihin nalasena on: September 8, 2008
Oleh: Anton Kurnia, penulis dan penerjemah karya sastra. Tinggal di Bandung.
(Jawa Pos, Minggu, 15 Agustus 2004)
Bisa jadi banyak karya sastra—novel, cerpen, puisi, lakon—karya para pengarang dunia tak akan pernah dapat dinikmati oleh sebagian besar khalayak kita jika tak ada para penerjemah yang menerjemehkannya ke dalam bahasa Indonesia. Dalam hal ini, andil para penerjemah sangat besar.
Pushkin, sastrawan ternama Rusia itu, suatu kali mengibaratkan para penerjemah sebagai “kurir sastra”. Pujian paling tinggi untuk para penerjmah mungkin diucapkan oleh pemenang Hadiah Nobel Sastra 1998 dari Portugal yang juga seorang penerjemah produktif, Jose Saramago. Ia mengatakan, para pengarang hanya menulis karya sastra dalam bahasa ibunya, tetapi sesungguhnya sastra dunia adalah ciptaan para penerjemah.
Di negeri kita, para sastrawan terkemuka dalam sejarah sastra kita pada dasarnya adalah para penerjemah yang berhasil menarik manfaat dari karya sastra dunia. Sebut misalnya Pramoedya Ananta Toer yang menerbitkan terjemahan novel Maxim Gorky, Leo Tolstoy, Mikhail Sholokov, dan John Steinbeck sebelum kemudian menulis tetralogi Bumi Manusia yang oleh para kritikus sastar dunia dianggap sebagai salah satu novel serial paling berhasil dalam khazanah sastra poskolonial.
Persoalan selanjutnya, seperti yang belakangan ini ramai diperbincangkan di tengah maraknya arus penerjemahan karya sastra di negeri kita, bagaimanakah caranya menghasilkan karya terjemahan yang baik?
Sekian banyak pendapat telah dipaparkan mengenai persoalan kualitas terjemah kita, baik yang bersifat konstruktif, maupun yang hanya cenderung menghujat tanpa menawarkan solusi. Salah satu yang cukup jenih adalah tulisan Alfons Taryadi, “Kritik Terjemahan di Indonesia”.
Tulisan itu mencoba memaparkan betapa memprihatinkan kondisi karya terjemahan kita secara umum. Di antara sejumlah karya terjemahan yang bisa dibilang baik, amat banyak karya terjemahan yang buruk. Menurut Alfons Taryadi yang juga ketua Himpunan Penerjemah Indonesia, para penerjemahlah yang paling bertanggung jawab atas kualitas karya terjemahannya. Namun, ia mengakui adanya faktor-faktor yang berpengaruh pada kinerja seorang penerjemah, seperti situasi sosial ekonomi, akses terhadap referensi serta penghargaan orang terhadap penerjmah dan karyanya.
Dalam tulisan itu disinggung pula sejumlah usulan untuk memperbaiki kualitas terjemah kita, antara lain menjadikan upaya penerjemahan sebagai proyek kolektif dengan melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan. Perlu dibuat pula sejumlah fungsi kontrol, termasuk dengan—menyepakti pendapat Dr. Ignas Kleden—menerbitkan suatu media yang memuat sorotan –sorontan kritis, ilmiah dan objektif atas buku-buku terjemahan yang terbit dengan maksud melecut komunitas penerbitan, termasuk pembaca, agar terus-menerus saling belajar –bukan untuk menghancurkan reputasi si penerjemah atau penerbit yang bersangkutan.
Lembaga Penerjemah Eropa, Sebuah Perbandingan
Sehubungan dengan persolaan kualitas terjemahan kita –khususnya terjemahan sastra—seperti telah diuraikan di muka, ada baiknya kita berkaca pada pengalaman bangsa lain yang memiliki peradaban literer lebih maju. Berkaitan dengan soal ini, di Jerman misalnnya dibentuk Lembaga Penerjamahan Eropa yang berpusat di Straelen, sebuah kota di negera bagian Nordrhein-Westfalen, yang kini telah berusia lebih dari sepermpat abad.
Bagi para penerjmah, Lembaga Penerjemah Eropa ini ibarat surga di bumi. Bayangkan saja, lembaga ini memiliki perpustakaan raksasa dengan lebih 110.000 jilid buku dalam lebih 275 bahasa dan dialek. Para penerjemah dapat dengan leluasa membaca buku-buku yang diperlukan, mencari referensi dan bahan pustaka. Selain itu, mereka dapat berbincang-bincdang dan bertukar pikiran dengan rekan-erkan seprofesi dari berbagai negera di Eropa. Lembaga ini bertempat di lima buah rumah kuno bergaya arsitektur antik Fachwerkhaus. Juga tersedia 20 apartemen, lengkap dengan komputer dan kamar kerja plus akses internet cuma-cuma bagi para penerjemah yang diundang. Di gedung lainnya, sepanjang tahun diselenggarakan aneka seminar tentang penerjemahan dengan para peserta dari berbagai negara.
Lembaga ini mungkin bisa disebut bank data hidup terbesar di dunia dalam bidang penerjemahan. Tak jarang para penerjemah sampai larut malam, bahkan semalam suntuk, mengadakan diskusi mengenai terjemahan yang sesuai dengan makna naskah asli tanpa kehilangan keindahannya. Para penerjemah asal Jerman, misalnya, membantu rekan-rekannya dari negera lain untuk memahami naskah para sastrawan negerinya seperti Goethe atau Gunter Grass.
Pakar bahasa Mikhail Rudnitzky yang berasal dari Rusia menggambarkan proses penerjemahan seperti seseorang yang harus melukiskan sebuah rumah indah di negera lain, sementara di negeranya sendiri rumah dengan arsitektur seperti itu tidak ada, bahkan seluruh keadaaan alamnya pun berbeda. Inilah salah satu masalah bagi para penerjemah, yakni memindahkan gambaran dengan kata-kata ke dalam bahasa sasaran dengan sejumlah acuan yang terkadang kurang dikuasainya, termasuk yang berkaitan dengan aspek-aspek sejarah, sosiologis, dan budaya.
Mikhail Rudnitzky pernah menjabat sebagai Translator in Residence, semacam direktur, di Lembaga Penerjemahan Eropa. Dapat dikatakan, ia bertindak sebagai tuan rumah bagi para penerjemah yang menajdi tamu di lembaga itu. Ia pun aktif mengadakan ceramah di berbagai kota di Jerman. Di sejumlah sekolah, universitas, dan lembaga-lembaga sastra, Translator in Residence ini menjelaskan berbagai masalah dan kendala yang dihadapi oleh para penerjemah. Rudnitzky juga berkeinginan menarik simpati bagi profresi penerjemah yang di seluruh dunia kurang diperhatikan. Honor seorang penerjemah biasanya kecil, sedangkan publik pembaca baru menyadari karya si penerjemah kalau terjemahannya jelek. Menurut Rudnitzky, itu tidak adil.
Selain Mikhail Rudnitzky, di lembaga itu ada Liubomir Iliev asal Bulgaria yang terkenal sebagai penerjemah karya besar Goethe, Faust. Sejak tahun 1987, Iliev telah menerjemahkan puluhan buku dari bahasa Jerman ke dalam bahasa Bulgaria. Iliev mengatakan, para penerjemah sebenarnya adalah para pengalih bahasa yang berperan besar dalam perkembangan sastra dunia. Menurutnya, diperlukan dukungan yang luas bagi profesi penerjemah yang besar tanggung jawannya, tapi sering tidak mendapatkan perhatian itu. Dukungan tersebut diharapkan datang bukan saja dari pemerintah, tapi juga dari berbagai unsur yang berkepentingan dengan tugas para penerjemah, seperti para penerbit, pembaca, kalangan akdemisi, dan para sastrawan.
Salah satu tugas lembaga penerjemahan di Straelen yang didanai oleh pemerintah Jerman, Uni Eropa, dan berbagai yayasan ini adalah juga mengupayakan pemberian penghargaan yang wajar kepada para penerjemah. Namun, kontribusi utama lembaga ini tak dapat diukur dengan uang. Di lembaga ini, para penerjemah berbagai bahasa berkumpul, berdiskusi membahas proses kerja, sekaligus meningkatkan komunikasi dan saling pengertian demi terciptanya karya terjemah yang baik kualitasnya.
Lembaga Penerjemahan Sastra, Sebuah Usulan
Lalu, bagaimana dengan ktia di sini? Saya kira, dari padas terus-menerus saling menghujat dan menyalahkan, untuk memperbaiki kualitas karya terjemahan kita perlu dipertimbangkan pembentukan lembaga penerjemahan. Seperti halnya lembaga serupa di Jerman, meski dalam skala yang berbeda, lembaga ini nantinya bertugas membantu dan memperbaiki kemampuan para penerjemah –khususnya para penerjemah sastra—dari berbagai bahasa ke bahasa Indonesia dalam menjalankan tugasnya, lengkap dengan segenap fungsi dan fasilitas penunjuang seperti yang telah diuraikan di muka: referensi yang lengkap, hubungan yang luas dan koordinasi yang baik.
Pembentukan serta pengelolaan lembaga ini hendaknya merupakan kerja sama antara pemerintah, berbagai kelompok praktisi penerjemehan, kalangan akademisi, para penerbit, dan kaum sastrawan dengan melibatkan berbagai lembaga kebudayaan.
Lembaga penerjemahan sasta ini tentu saja bukanlah semacam tukang sulap yang akan menuntaskan berbagai persoalan penerjemahan karya sastra secara serta merta, melainkan semacam upaya besama yang terkoordinasi untuk menyelesaikan sejumlah permasalahan yang mengemuka dalam penerjemahan karya sastra dunia ke dalam bahasa Indonesia satu demi satu, tahap demi tahap.
Lembaga ini juga bukan semacam lembaga pemantau yagn bertugas menyeleksi hasil terjemahan yang beredar di masyarkat seperti yang sempat diusulkan oleh Satmoko Budi Santoso (Matabaca, Oktober 2003), melainkan sebuah lembaga yang ikut berperan aktif dalam proses perbaikan kualitas karya terjemahan kita.
Upaya kolektif yang melibatkan berbagai pihak ini diharapkan mampu memberikan sumbangan berarti bagi kualitas penerjemahan sastra di negeri kita. Sebab, karya terjemahan yang baik bagaimanapun amat kita perlukan. Karya terjemahan adalah jembatan untuk menggaii khazanah satra dunia dan memahami budaya bangsa lain tanpa terhalang perbedaan bahasa, selain untuk mempelajari pengetahuan baru yang bakal memperkaya hidup kita. []
Komentar Terakhir