Penerjemah Freelance

Urgensi Lembaga Pemantau Penerjemahan

Posted by: solihin nalasena on: September 8, 2008

Oleh: Satmoko Budi Santoso, editor Jurnal Cerpen Indonesia, penulis buku kumpulan cerpen Jangan Membunuh di Hari Sabtu, tinggal di Yogyakarta.

(Matabaca, Vol. 2/No.2/Oktober 20003)

 Pernahkah Anda menjumpai hasil terjemahan sebuah buku yang diperjual-belikan oleh salah satu penerbit di Yogyakarta, namun sayangnya dalam satu kalimat paragraf awal—baru paragraf awal nih…-ada frasa yang berbunyi seorang paradoks? 

Sekitar setahunan yang silam, seorang sarjana asal Wuppertal Jerman bernama Katrin Bandel, yang meraih gelar MA dalam bidang sastra Indonesia di Universitas Hamburg dengan tesis yang menyoal novel dan cerpen Putu Wijaya, pernah mengeluhkan perihal buku-buku terjemahan yang diedarkan para penerbit di Indonesia. Secara tegas Katrin menyatakan bahwa buku-buku terjemahan di Indonesia, baik fiksi maupun yang imiah, sangat memprihatinkan. Alasannya: sering nyumpal dari substansi yang sesungguhnya atau dengan kata lain hasil terjemahan yang ia baca belumlah layak dikonsumsi masyarakat. Oleh karena itu, Katrin memilih membaca teks aslinya, dalam versi bahasa Inggris atau bahasa Jerman. 

Katrin pun membandingkan kondisi penerjemahan di Indonesia dengan kondisi penerjemahan di luar negeri, khususnya di Jerman yang menempuh prosedur konsultatif dengan banyak profesor yagn dianggap berkompeten terhadap profesionalisasi bidang penerjemahan. Sampai di sini, kita andaikan saja bahwa prosedur konsultatif yang dimaksud Katrin lebih pada siapnya lembaga pemantau kebenaran penerjemahan. Dengan sendirinya, ketika berhadapan dengan lembaga ini, pihak penerjmah—baik secara pribadi atau atas nama penerbit—bisa mengajukan dirinya, serupa presentasi. Saat itulah kemahiran penerjemahannya diuji sehingga hanya yang memenuhi persyaratan kualitatiflah yang akan lolos—jelas, buku hasil terjemahannya siap dikonsumsi publik. 

Kemutlakan adanya lembaga pemantau penerjemahan ini, saya kira, sudah saatnya ada. Kita tahu, dalam beragam artikel, reportasi, dan surat pembaca yang bertebaran di koran-koran kerap mempersaalkan hal ini. Dalam Matabaca Edisi Khusus Tahunan No. 12/Agsutus 2003, misalnya, kita temui paparan Agung Prihantoro yang kembali mengingatkan kesalahan fatal yang dilakukan Penerbit Buku Kompas ketika membikin seri terjemahan kumpulan cerpen Mata yang Indah menjadi Beautiful Eyes. 

Agung Prihantoro menyebut bahwa kritik yang dilontarkan dalam sebuah artikel di harianKompas, kebetulan ditulis oleh sastrawan Sori Siregas, menunjukkan betapa koridor tugas penerjemahan semakin hablur dalam implementasi konkretnya. Bagaimana jadinya jika penerjemah ikut masuk dalam wilayah menginterpretasi cerita? Itulah persoalan krusial yang ia sodorkan. 

Kita tahu, analogi dalam dunia politik yang serba semrawut, dengan hasil yang kurang –lebih tetap manipulatif, toh ada lembaga pemantau yang—barangkali—memang diniatkan sebagai upaya penegakan permainan poitik yang elegan. Ada Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP), misalnya. Bahkan ada komite-komite sempalan lain yang beriktikad membumi-hanguskan para koruptor. 

Di dunia perbukuan, upaya penegakan supremasi kemutlakan lembaga penerjemah ini bisa dibebankan kepada lembaga resmi pemerintah seperti Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) yang diharapkan sanggup menjembatani kondisi terjemahan buku-buku di Indonesia yang memprihatinkan. Kenapa lembaga seperti Depdiknas yang ditunjuk? 

Pertama, dalam aspek kesiapan infrastruktur dan kemampuan organisatoris, lembaga ini bisa dikatan mampu mengakomodasi dan mengonkretkan program-program baru. Jika ide semacam ini disetujui, pihak Depdiknas tinggal mengundang orang-orang yang berkompeten di dunia penerjemahan untuk berkumpul mencari rumusan dan format yang tepat terhadap sosialisasi buku terjemahan agar tidak melenceng dari cita-cita pencerdasan kehidupan bangsa. Sebab, bagaimana jadinya dan betapa malunya mahasiswa Indonesia ketika berdiskusi dengan mahasiswa asing? Bahwa ternyata yang ia baca sangat tidak substansial? Apakah layak seorang mahasiswa semester akhir sebuah universitas negeri di Yogyakarta menyebut Michel Foucault adalah dari aliran strukturalisme Perancis? Berdasarkan telaah buku terjemahan siapa? Apakah buku-buku paca kolonialisme yang mereka baca terbuktikan esensinya? 

Dalam hal ini, lebaga seperti Depdiknas juga bisa sekalian mengundang pihak-pihak seperti Balai Penelitian Bahasa yang selama ini bertanggung jawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia. Apakah program kerja dari Balai Penelitian Bahasa hanya sebatas menginventarisasi kata-kata serapan bahasa daerah tertentu ke dalam bahasa Indonesia? Seperti kata “anjlok”, yang identik sebagai bahasa Jawa, akhirnya terbakukan sebagai bahasa Indonesia, sahih dipakai dalam pemberitaan televisi dan diupayakan masuk dalam Kamus bahasa Indonesia? Bukankah program kerja Lembaga Penelitian Bahasa jadi terlalu ringan jika hanya mengurusi proyek penelitian bahasa lokal dalam konstelasi skala makro keberbahasaan Indonesia yang tetap bervarian kompleks? Bukankah prosedur memohon “pertanggungjawaban” Balai Penelitian Bahasa dalam mengantisipasi “pembodohan massal” lewat penerjemahan yang melenceng hanya bisa dilakuan oleh lembaga seperti Depdiknas? 

Kedua, Depdiknas adalah lembaga yang juga bertanggung jawab terhadap kurikulum kependididkan sehingga ketika ada hal-hal yagn bersifat krusial berkaitan dengan masalah pendidikan, agenda pembaruannya bisa langsung diwujudkan. Misalnya, masalah kondisi penerjemahan yang ideal juga masuk dalam mata kuliah Kritik Sastra, tentu saja untuk kurikulum pendidikan level perguruan tinggi. 

Karena itu, jika tidak diantisipasi secara cepat dan tepat, pemahaman yang kelirulah yang justru diyakini pembaca buku terjemahan di Indonesa. Padahal, banyak mahasiswa di Indonesai hanya mampu mengandalkan buku-buku terjemahan karena keterbatasan penguasaan bahasa asing. Sikap yang telalu menyadarkan diri pada keberadaan the second text atau teks sampingan ini, pastilah akan menjadi bumerang kesalahapahaman rasionalisaasi ilmu pengetahuan. Pengalaman empirik saya ketika betemu dengan banyak rekan dari beragam disiplin ilmu juga mengeluhkan hal itu, seperti penyair Saut Situmorang yang berlatar belakang pendidikan sastra Inggris dari Iniversity of Wellington di Selandia Baru, yang ketika swya tanya apakah sudah membaca buku terjemahan baru dari penerbit Indonesia selalu saja dijawabnya, “No comment”. 

Kita tahu, sebenarnya hampir setiap penerbit buku di Indonesia mempunyai tim khusus yang berperan menjadi “penjaga” kebenaran hasil penerjemahan. Namun, pangalaman saya ketika berbincang-bindang dengan seorang editor terjemahan yang bernama Helmy Mostofa, ternyata ia pun merasa kewalahan. Aspek kewalahannya yang utama adalah ketidakmampuannya berhadapan dengan policy makro, policy yang lebih besar, yakin dari “bos” peneribt buku tempat ia bekerja ataupun kebijkan redaksional yang secara komunal—entah mengapa—kadang-kadang tetap meloloskan naskah terjemahan yang menurutnya sangat tidak layak edar. 

Nah, karenanya, urgensi adanya lembaga pemantau penerjemahan ini sungguh-sungguh bernilai mutlak sehingga sebelum beredar di tengah masyarkat, draf atau manuskrip buku-buku hasil terjemahan terseleksi lebih dulu oleh pihak lembaga pemantau. Setidaknya, jalan semacam ini diharapkan akan mampu mengerem asumsi kondisi penerjemahan di Indonesia yang meragukan dan publik pembaca pun tidak merasa dibohongi dengan “cuci otak” yang asal-asalan keran aapa yang dibacanya ternyata jauh dari sebutan substansial. 

Siapa pun tahu, jika orang menyepelekan asumsi—karena belum ada kualifikasi penerbitan perihal kebobrokan penerjemahan yang valid—bukankah akan berimbas menjadi stigma atau malah juga vonis? []

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 

September 2008
S S R K J S M
« Agu    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Senarai Penerjemah

Tulisan Teratas

  • Tidak ada

Anekdot Penerjemah

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Flickr Photos

San Gregorio Sunset

Untitled

Fields of Gold

transience

Portrait

Pushed by light

L'échiquier oublié ...

sobekcis

The First Three On The List

Bagan Lalang Beach || .Y.E.L.L.O.W.

More Photos
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.