Penerjemah Freelance

Piagam Penerjemah

Posted on: September 23, 2008

(Dari “The Translator’s Charter”, yang dirumuskan oleh FIT Federasi Penerjemah Internasional dalam Kongresnya yang keempat di Dubrovnik, Yugoslavia, 1963. [Rochayah Machali; 2000])

 

Federasi Penerjemah Internasional

Memperhatikan:

          bahwa penerjemahan telah terbentuk menjadi suatu kegiatan permanen dan semesta yang diperlakukan pada zaman sekarang di dunia; bahwa dengan dimungkinkannya pertukaran karya intelektual antarbangsa, penerjemahan telah memperkaya kehidupan bangsa tersebut dan ikut memberikan andil bagi timbulnya lebih pengertian antara bangsa-bangsa.

          bahwa meskipun penerjemah dipraktikan dalam berbagai kondisi dan keadaan, penerjemahan sekarang harus diakui sebagai suatu profesi yang jelas dan otonom.

 

Berkeinginan:

          untuk menetapkan, sebagai dokumen formal, prinsip-prinsip umum tertentu secara tidak terpisah dan terkait dengan profesi penerjemahan, terutama untuk tujuan:

Ø      menekankan fungsi sosial penerjemah;

Ø      menetapkan hak dan kewajiban penerjemah;

Ø      mengembangkan kondisi ekonomi dan iklim soisila tempat penerjemah menjalankan kegiatannya, dan

Ø      menyarankan tata cara bertindak tertentu bagi penerjemah dan organisasi profesionalnya.

Ø      untuk memberikan sumbangan menurut tujuan ini ke arah diakuinya penerjemahan sebagai prosesi yang otonom dan jelas.

 

MENERBITKAN TEKS PIAGAM BERIKUT YANG DIUSULKAN AGAR MENJADI PETUNJUK BAGI PELAKSANAAN PROFESI SEBAGAI PENERJEMAH

 

Bagian I

Kewajiban Umum Penerjemah

  1. Penerjemahan sebagai kegiatan intelektual yang obyeknya adalah pengalihan teks teknis, ilmiah, dan sastra dari satu bahasa ke bahasa lain, sesuai dengan sifatnya, memberikan kewajiban melekat kepada mereka yang mempraktikkannya.
  2. Suatu penerjemahan hendaknya selalu dilakukan atas tanggung jawab pribadi penerjemah, apa pun sifat hubungan atau kontrak yang mengikat penerjemah dengan kliennya.
  3. Penerjemah hendaknya menolak memberikan penafsiran terhadap teks yang isinya tidak disetujuinya, karena hal ini bertentangan dengan kewajiban terhadap profesinya.
  4. Setiap terjemahan hendaknya setia dan mempertahankan secara tepat gagasan dan bentuk versi aslinya – dan hal ini merupakan kewajiban moral dan hukum bagi penerjemah.
  5. Namun, penerjemahan yang setia tersebut hendaknnya tidak disamakan dengan penerjemahan harfiah, yakni dalam hal ini tidak mengabaikan adaptasi dalam rangka membuat agar bentuk, suasana, dan makna yang lebih dalam dari karya tersebut dirasakan dalam bahasa lain dan negara lain.
  6. Penerjemah hendaknya memiliki pengetahuan yang baik mengenai bahasa yang akan diterjemahkannya dan terutama hendaknya menguasai bahasa sasarannya.
  7. Dengan demikian, ia harus mempunyai pengetahuan yang luas dan cukup mengetahui pokok masalah yang akan diterjemahkannya dan menahan diri untuk tidak menerjemahkan pokok masalah yang berada di luar kemampuannya.
  8. Penerjemah hendaknya menahan diri untuk tidak melakukan persaingan yang tidak adil dalam menjalankan profesinya; khususnya, ia hendaknya tidak menerima bayaran di bawah bayaran yang sesuai dengan hukum, peraturan, kebiasaan, atau yang ditentukan oleh organisasi profesionalnya.
  9. Secara umum, ia hendaknya tidak mencari atau menerima pekerjaan penerjemahan yang merendahkan dirinya maupun profesinya.
  10. Penerjemah hendaknya menghormati kepentingan yang sah dari para kliennya dengan menganggap segala informasi yang kebetulan diterjemahkannya sebgai rahasia profesi yang dipercayakan kepadanya.
  11. Sebagai pengarang “sekunder”, penerjemah dituntut untuk menerima kewajiban khusus dalam kaitan dengan pengarang aslinya.
  12. Dia harus minta izin kepada pengarang asli atau kepada yang berwenang apabila akan menerjemahkan suatu karya, dan di samping itu harus menghormati semua hak lain yang tercakup dalam diri pengarang tersebut.

 

Bagian II

Hak-hak Penerjemah

  1. Setiap penerjemah hendaknya menggunakan hak-haknya dalam kaitannya dengan penerjemahan yang dilakukannya, yang oleh negera tempatnnya melakukan penerjemahan tersebut juga diberikan kepada pengarang intelektual lain.
  2. Suatu terjemahan, sebagai kreasi intelek, harus memperoleh perlindungan hukum sesuai dengan pekerjaan tersebut.
  3. Oleh karena itu, penerjemah merupakan pemegang hak cipta terjemahannya, sehingga ia mempunyai hak-hak yang sama dengan pengarang asli.
  4. Penerjemah, dalam kaitannnya dengan penerjemahan, hendaknya memperoleh segala hak-hak moral bagi kelanjutan yang ada dalam kepengarangannya.
  5. Dengan demikian, selama hidupnya ia hendaknya memperoleh hak pengakuan bagi kepengarangan terjemahannya, yang berarti bahwa:

a)     namanya hendaknya disebutkan secara jelas dan tidak taksa kapan saja terjemahannya digunakan secara umum;

b)     ia hendaknya diberi hak untuk menentang segala distorsi, perusakan, atau modifikasi lain terhadap hasil terjemahannya;

c)      penerbit hasil terjemahannya dan pengguna lain hendaknya tidak melakukan perubahan terhadap terjemahannya atau terlebih dulu ada persetujuan penerjemah;

d)     ia berhak melarang segala pemanfaatan yang tak layak terhadap hasil terjemahnya dan, secara umum, menolak segala serangan terhadap terjemahan tersebut, yang sifatnya berpurbasangka, terhadap kehormatan dan reputasinya.

  1. Di samping itu, hak eksklusif untuk memberikan kewenangan diterbitkannya, disajikannya, dan diudarakannya, diterjemahkan-ulang, diadaptasikan, diubah atau penggunaan lain dari hasil terjemahannya, dan, secara umum, hak-hak untuk menggunakan hasil terjemahannya dalam bentuk apa pun harus tetap menjadi hak penerjemah.
  2. Untuk setiap pengunaan hasil terjemahan itu secara umum, penerjemah berhak memperoleh imbalan menurut jumlah yang ditentukan menurut kontrak atau menurut hukum.

 

Bagian III

Posisi Sosial dan Ekonomi Penerjemah

  1. Penerjemah harus dijamin kondisi kehidupannya, yang memungkinkannya untuk menjalankan tugas sosialnya secara efisien dan bermartabat.
  2. Penerjemah hendaknya ikut punya saham dalam keberhasilan pekerjaannya dan, pada khususnya, hendaknya berhak mendapatkan imbalan yang proposional dengan hasil komersial dari karya yang ia terjemahkan.
  3. Harus diakui bahwa terjemahan dapat terjadi dalam bentuk kerja berkomisi dan dengan demikian mengharuskan ada imbalan yang tersendiri dari laba komersial yang diperoleh dari pekerjaan yang diterjemahkan.
  4. Profesi penerjemah, seperti halnya profesi lain, hendaknya memperoleh perlindungan yang sama nilai dengan yang diberikan kepada profesi lain di negara tersebut, dalam hal kontrol imbalan, perjanjian kolektif, kontrak standar, dsb.
  5. Para penerjemah di setiap negara hendaknya memperoleh segala manfaat yang dijamin adanya bagi para intelektual, dan khususnya yang berkaitan dengan perencanaan asuransinya, seperti pensiun hari tua, asuransi kesehatan, tunjangan pengangguran dan tunjangan keluarga.

 

Bagian IV

Perserikatan dan Masyarakat Penerjemah

  1. Sebagaimana halnya dengan para anggota profesi lain, para penerjemah hendaknya memperoleh hak untuk membentuk masyarakat atau perserikatan penerjemah.
  2. Selain membela kepentingan moral dan materil penerjemah, organisasi ini hendaknya mempunyai tugas menjamin adanya pengembangan mutu terjemahan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan penerjemahan.
  3. Mereka hendaknya memberikan pengaruhnya terhadap pihak yang berwenang dalam hal penyiapan dan pemberlakuan langkah-langkah hukum dan peraturan yang berkaitan dengan profesi penerjemah.
  4. Mereka hendaknya berjuang untuk mempertahankan hubungan permanen dengan organisasi yang merupakan pemakai terjemahan (organisasi penerbit, usaha komerial, dan industri, pejabat negara dan swasta, dsb.) untuk tujuan mengkaji dan memecahkan masalah yang dihadapi bersama.
  5. Dalam mengawasi kualitas pekerjaan yang diterjemahkan di negara mereka, organisasi hendaknya tetap behubungan dengan organisasi kultural, masyarakat pengarang, bagian nasional dari suatu Pen Club, kritikus sastra, masyarakat terpelajar, universitas, dan lembaga-lembaga penelitian ilmiah dan teknis.
  6. Organisasai tersebut hendaknya mampu bertindak seagai penengah dan tenaga ahli dalam semua perselisihan yang muncul antara penerjemah dan pengguna terjemahan.
  7. Organisasi hendaknya mempunyai hak untuk memberikan nasihat mengenai pelatihan dan rekrutmen penerjemah, dan untuk bekerjasama dengan organisasi khusus dan dengan universitas dalam rangka mencapai tujuan-tujuan ini.
  8. Organisasi hendaknya berusaha untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan profesi penerjemah dari segala sumber dan membuat agar penerjemah mudah memperolehnya, dalam bentuk perpustakaan, arsip, jurnal dan buletin, dan untuk tujuan ini organisasi hendaknya memberikan layaran informasi praktis dan teoritis, dan mengatur seminar dan pertemuan-pertemuan.

 

Bagian V

Organisasi Nasional dan Federasi Internasional bagi Penerjemah

  1. Apabila ada beberapa kelompok penerjemah di suatu negera, yang diatur secara regional maupun diatur menjadi kategori yang berlainan, kelompok-kelompok ini hendannya mengkoordinasikan kegiatan-kegiatannya dalam suatu organisasi nasional yang terpusat, sambil tetap mempertahankan identitasnya.
  2. Di negara-negara yang tidak mempunyai perserikatan atau masyarakat penerjemah, disarankan agar para penerjemah menghimpun kekuatan untuk mendirikan organisasi tersebut, sesuai dengan persyaratan hukum yang berlaku.
  3. Untuk menjamin tercapainya tujuan-tujuan organisasi pada tingkat dunia melalui usaha besama, organisasi-oraganisasi penerjemah tingkat nasional diimbau agar bersatu dalam FIT (Federasi Penerjemah Internasional).
  4. Para penerjemah hendaknya ikut serta dalam organisasai nasional mereka atas kemauan sendiri, dan hal sama juga berlaku dalam kaitan hubungan antara penerjemah dan FIT.
  5. FIT hendaknya membela hak-hak moral dan materiil penerjemah pada tingkat internasional, tetap mengikuti kemajuan dalam hal-hal teoritis maupun praktis yang berkaitan dengan penerjemahan, berupaya memberikan sumbangannya untuk menyebarkan peradaban di seluruh dunia.
  6. FIT hendaknya mempertahankan tujuan-tuuan ini dengan mewakili para penerjemah pada tingkat internasional, khususnya melalui hubungan dengan organisasi pemerintah, non pemerintah, dan internasional, dengan ikut serta dalam pertemuan-pertemuan yang mungkin berkepentingan dengan para penerjemah dan penerjemahan pada tingkat internasional, dengan menerbitkan karya-karya, di mana permasalahan mengenai penerjemahan atau penerjemah dapat diteliti.
  7. Secara umum FIT hendaknya meperluas kegiatan perserikatan-perserikatan di setiap negara ke tingkat internasional, mengkoordinasikan upaya-upaya mereka dan menentukan kebijakan bersama.
  8. Masyarakat atau perserikatan nasional dan FIT, dan organisasi-organisasi pusatnya, menggalang kekuatan untuk mengejar tujuan profesionalnnya melalui perasaan solidaritas yang ada di antara para penerjemah dan melalui martabat penerjemahan yang memberikan sumbangsih terhadap semakin baiknya pengertian antara bangsa-bangsa dan meluasnya kebudayaan di seluruh dunia.

 

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

September 2008
S S R K J S M
« Agu    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Senarai Penerjemah

Anekdot Penerjemah

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Flickr Photos

%d blogger menyukai ini: